Mereka mengatakan harus ada “peranan besar” tenaga nuklir dalam solusi “yang meyakinkan” untuk menstabilkan iklim.
Pembangkit listrik tenaga nuklir Three Mile Island di Middletown, negara bagian Pennsylvania, Amerika. (Foto: Dok)
Empat orang pakar iklim terkemuka mendesak para aktivis lingkungan agar mendukung pengembangan sistem energi nuklir yang “aman” sebagai alternatif untuk bahan bakar fosil yang turut menyebabkan pemanasan global.
Para pakar atau ilmuwan yang berbasis di Amerika Serikat dan Australia itu mengajukan imbauan mereka melalui surat yang dikeluarkan Minggu (3/11) dan ditujukan kepada orang-orang yang mempengaruhi kebijakan lingkungan tetapi menentang tenaga nuklir.
Banyak aktivis lingkungan yakin pembangkit nuklir terlalu berbahaya dan tinggi biayanya untuk menggantikan bahan bakar fosil. Mereka mengatakan pemerintah sebaiknya menanam modal dalam sumber energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin untuk memenuhi kebutuhan dunia.
Tetapi, para penulis surat tadi mengatakan tenaga surya dan angin tidak dapat dikembangkan cukup cepat untuk menghasilkan energi murah dan dapat diandalkan pada tingkat yang dibutuhkan ekonomi global.
Mereka mengatakan harus ada “peranan besar” tenaga nuklir dalam solusi “yang meyakinkan” untuk menstabilkan iklim.
Sumber : VOA Indonesia
Tuesday, 12 November 2013
Studi: Tidur Bersihkan Otak dari Sampah dan Racun
Akumulasi sampah di dalam otak, menurut para ahli, dapat menyebabkan penyakit-penyakit seperti Alzheimer.
Saat kita tidur, otak kita tidak hanya "mengisi ulang" namun juga membersihkan diri dari racun dan sampah. (Foto: Ilustrasi)
Saat kita tidur, otak kita melakukan lebih dari sekadar "mengisi ulang" untuk esok hari. Otak juga melakukan pembersihan dengan proses yang diharapkan para ilmuwan dapat mengarah pada pengobatan penyakit-penyakit 'otak kotor' seperti Alzheimer.
Tidur dapat mengeluarkan racun-racun dari otak yang terakumulasi di siang hari, menurut sebuah penelitian yang dapat mengubah pemahaman mengenai tujuan biologis dari tidur.
“Studi ini menunjukkan bahwa otak memiliki keadaan-keadaan fungsional yang berbeda saat tidur dan ketika bangun," ujar Maiken Nedergaard, M.D., D.M.Sc. dariPusat Medis University of Rochester Medical Center(URMC) yang mengepalai penelitian ini.
"Fungsi restoratif dari tidur sepertinya merupakan hasil dari pembersihan aktif sisa-sisa aktivitas syaraf yang terakumulasi selama bangun."
Para peneliti mengatakan studi tersebut mengungkapkan bahwa metode unik pembersihan sampah yang dilakukan otak -- disebut sistem glimfatik -- sangat aktif saat kita tidur, membuang racun-racun yang menyebabkan penyakit Alzheimer dan kelainan syaraf lainnya. Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa saat tidur, sel-sel otak mengecil ukurannya, membuat sampah dapat dibuang dengan lebih efektif.
Menggunakan miskroskop dua-foton untuk menyelidiki otak tikus, para peneliti menemukan apa yang mereka sebut "sistem pembuangan" yang menempel pada saluran-saluran darah otak dan memompa cairan tulang belakang otak (CSF) melalui jaringan otak, membuang sampah ke dalam sistem peredaran darah dan hati untuk disaring.
Para peneliti mengatakan karena pemompaan CSF memerlukan energi besar, barangkali memang lebih baik dilakukan saat otak tidak sedang sibuk memroses informasi selama waktu bangun.
Para ilmuwan ini juga menemukan bahwa otak "menciut" 60 persen saat tidur, sehingga cairan CSF dapat mengalir lebih bebas.
“Penemuan-penemuan ini memiliki implikasi signifikan bagi pengobatan penyakit 'otak kotor' seperti Alzheimer," ujar Nedergaard.
“Memahami secara akurat bagaimana dan kapan otak mengaktifkan sistem glimfatik dan membersihkan sampah merupakan langkah kritis pertama dalam upaya memodulasi sistem ini dan membuatnya bekerja lebih efisien."
Hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Science.
Sumber : VOA Indonesia
Saat kita tidur, otak kita tidak hanya "mengisi ulang" namun juga membersihkan diri dari racun dan sampah. (Foto: Ilustrasi)
Saat kita tidur, otak kita melakukan lebih dari sekadar "mengisi ulang" untuk esok hari. Otak juga melakukan pembersihan dengan proses yang diharapkan para ilmuwan dapat mengarah pada pengobatan penyakit-penyakit 'otak kotor' seperti Alzheimer.
Tidur dapat mengeluarkan racun-racun dari otak yang terakumulasi di siang hari, menurut sebuah penelitian yang dapat mengubah pemahaman mengenai tujuan biologis dari tidur.
“Studi ini menunjukkan bahwa otak memiliki keadaan-keadaan fungsional yang berbeda saat tidur dan ketika bangun," ujar Maiken Nedergaard, M.D., D.M.Sc. dariPusat Medis University of Rochester Medical Center(URMC) yang mengepalai penelitian ini.
"Fungsi restoratif dari tidur sepertinya merupakan hasil dari pembersihan aktif sisa-sisa aktivitas syaraf yang terakumulasi selama bangun."
Para peneliti mengatakan studi tersebut mengungkapkan bahwa metode unik pembersihan sampah yang dilakukan otak -- disebut sistem glimfatik -- sangat aktif saat kita tidur, membuang racun-racun yang menyebabkan penyakit Alzheimer dan kelainan syaraf lainnya. Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa saat tidur, sel-sel otak mengecil ukurannya, membuat sampah dapat dibuang dengan lebih efektif.
Menggunakan miskroskop dua-foton untuk menyelidiki otak tikus, para peneliti menemukan apa yang mereka sebut "sistem pembuangan" yang menempel pada saluran-saluran darah otak dan memompa cairan tulang belakang otak (CSF) melalui jaringan otak, membuang sampah ke dalam sistem peredaran darah dan hati untuk disaring.
Para peneliti mengatakan karena pemompaan CSF memerlukan energi besar, barangkali memang lebih baik dilakukan saat otak tidak sedang sibuk memroses informasi selama waktu bangun.
Para ilmuwan ini juga menemukan bahwa otak "menciut" 60 persen saat tidur, sehingga cairan CSF dapat mengalir lebih bebas.
“Penemuan-penemuan ini memiliki implikasi signifikan bagi pengobatan penyakit 'otak kotor' seperti Alzheimer," ujar Nedergaard.
“Memahami secara akurat bagaimana dan kapan otak mengaktifkan sistem glimfatik dan membersihkan sampah merupakan langkah kritis pertama dalam upaya memodulasi sistem ini dan membuatnya bekerja lebih efisien."
Hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Science.
Sumber : VOA Indonesia
Milyaran Planet Mirip Bumi Ada di Bima Sakti
Ini berarti ada paling sedikit 8,8 milyar bintang yang mempunyai planet sebesar Bumi dalam zona suhu yang dapat dihuni.
Pusat Galaksi Bima Sakti yang bertabur bintang mengarah pada konstelasi Sagitarius. (NASA, ESA, and G. Brammer)
Para pakar mengatakan ada milyaran planet yang mirip Bumi dalam galaksi Bima Sakti yang mengitari bintang-bintang seperti matahari.
Dengan menggunakan data yang dikumpulkan oleh observatorium antariksa Kepler NASA, para astronom sekarang menaksir bahwa kira-kira satu dalam setiap lima bintang yang mirip matahari mempunyai planet yang hampir sama besarnya dengan Bumi dan juga mempunyai suhu permukaan yang memungkinkan pengembangan mahluk-hidup.
Ini berarti ada paling sedikit 8,8 milyar bintang yang mempunyai planet sebesar Bumi dalam zona suhu yang dapat dihuni.
Hasil penelitian itu dimuat Senin (4/11) dalam jurnal “Proceedings of the National Academy of Science.”
Misi Kepler tidak sampai memberi rincian penting dalam pencarian makhluk hidup pada planet-planet lain, seperti apakah planet-planet tersebut mempunyai atmosfer, oksigen atau air-cair untuk mendukung kehidupan.
Para ilmuwan mengatakan langkah berikut adalah untuk mencari atmosfir pada planet-planet tersebut dengan teleskop antariksa yang kuat yang belum pernah dilakukan. Ini akan menghasilkan petunjuk lebih jauh mengenai apakah ada di antara planet tersebut yang dihuni mahluk hidup.
Sumber : VOA Indonesia
Pusat Galaksi Bima Sakti yang bertabur bintang mengarah pada konstelasi Sagitarius. (NASA, ESA, and G. Brammer)
Para pakar mengatakan ada milyaran planet yang mirip Bumi dalam galaksi Bima Sakti yang mengitari bintang-bintang seperti matahari.
Dengan menggunakan data yang dikumpulkan oleh observatorium antariksa Kepler NASA, para astronom sekarang menaksir bahwa kira-kira satu dalam setiap lima bintang yang mirip matahari mempunyai planet yang hampir sama besarnya dengan Bumi dan juga mempunyai suhu permukaan yang memungkinkan pengembangan mahluk-hidup.
Ini berarti ada paling sedikit 8,8 milyar bintang yang mempunyai planet sebesar Bumi dalam zona suhu yang dapat dihuni.
Hasil penelitian itu dimuat Senin (4/11) dalam jurnal “Proceedings of the National Academy of Science.”
Misi Kepler tidak sampai memberi rincian penting dalam pencarian makhluk hidup pada planet-planet lain, seperti apakah planet-planet tersebut mempunyai atmosfer, oksigen atau air-cair untuk mendukung kehidupan.
Para ilmuwan mengatakan langkah berikut adalah untuk mencari atmosfir pada planet-planet tersebut dengan teleskop antariksa yang kuat yang belum pernah dilakukan. Ini akan menghasilkan petunjuk lebih jauh mengenai apakah ada di antara planet tersebut yang dihuni mahluk hidup.
Sumber : VOA Indonesia
Tanda Autisme Bisa Dikenali sejak Bayi
Menurunnya kontak mata bayi pada beberapa bulan pertama usianya, mungkin merupakan kunci untuk mengenali kemungkinan mengidap autisme.
Bayi belajar mengenali isyarat-isyarat sosial dengan melihat ke mata orang lain (foto: ilustrasi).
Menurunnya kontak mata dalam beberapa bulan pertama usia mungkin merupakan kunci untuk mengenali anak-anak yang kemungkinan mengidap autisme.
Bayi umumnya memusatkan perhatian pada wajah segera setelah lahir dan belajar mengenali isyarat-isyarat sosial dengan melihat ke mata orang lain.
Anak-anak yang mengidap autisme – gangguan tumbuh-kembang yang ditandai dengan ketidakmampuan melakukan interaksi sosial dan komunikasi – jarang mengadakan kontak mata.
Dalam studi yang didanai oleh Institut Nasional Kesehatan Mental Amerika, tim periset menggunakan peralatan pelacak mata untuk mengukur gerakan mata ketika anak-anak menyaksikan gambar pengasuhnya, dengan mencatat seberapa sering mereka melihat ke arah wajah, tubuh dan benda-benda lain. Sesi ini diselenggarakan 10 kali dalam waktu dua tahun.
Autisme biasanya tidak terdiagnosa hingga setelah usia dua tahun. Pada usia tiga tahun, sewaktu studi ini memperoleh kemajuan, data pelacak mata itu menunjukkan anak-anak yang mengidap autisme kurang fokus dan kurang memperhatikan mata pengasuh mereka.
Tim periset mengatakan hal itu menunjukkan anak-anak autistik dilahirkan dengan ketrampilan sosial yang utuh dan dengan mengenali tanda-tanda awal awal ketidakmampuan sosial itu, maka intervensi “dapat ikut mengurangi beberapa gangguan fisik terkait autisme. Temuan tim riset ini dilaporkan dalam jurnal “Nature”.
Sumber : VOA Indonesia
Bayi belajar mengenali isyarat-isyarat sosial dengan melihat ke mata orang lain (foto: ilustrasi).
Menurunnya kontak mata dalam beberapa bulan pertama usia mungkin merupakan kunci untuk mengenali anak-anak yang kemungkinan mengidap autisme.
Bayi umumnya memusatkan perhatian pada wajah segera setelah lahir dan belajar mengenali isyarat-isyarat sosial dengan melihat ke mata orang lain.
Anak-anak yang mengidap autisme – gangguan tumbuh-kembang yang ditandai dengan ketidakmampuan melakukan interaksi sosial dan komunikasi – jarang mengadakan kontak mata.
Dalam studi yang didanai oleh Institut Nasional Kesehatan Mental Amerika, tim periset menggunakan peralatan pelacak mata untuk mengukur gerakan mata ketika anak-anak menyaksikan gambar pengasuhnya, dengan mencatat seberapa sering mereka melihat ke arah wajah, tubuh dan benda-benda lain. Sesi ini diselenggarakan 10 kali dalam waktu dua tahun.
Autisme biasanya tidak terdiagnosa hingga setelah usia dua tahun. Pada usia tiga tahun, sewaktu studi ini memperoleh kemajuan, data pelacak mata itu menunjukkan anak-anak yang mengidap autisme kurang fokus dan kurang memperhatikan mata pengasuh mereka.
Tim periset mengatakan hal itu menunjukkan anak-anak autistik dilahirkan dengan ketrampilan sosial yang utuh dan dengan mengenali tanda-tanda awal awal ketidakmampuan sosial itu, maka intervensi “dapat ikut mengurangi beberapa gangguan fisik terkait autisme. Temuan tim riset ini dilaporkan dalam jurnal “Nature”.
Sumber : VOA Indonesia
Ilmuwan: Dinosaurus yang Ditemukan di Utah Kerabat T. Rex
Para ilmuwan berharap penemuan ini akan membantu pemahaman yang lebih baik akan eskosistem tempat pemangsa tersebut berkeliaran.
Fosil Lythronax argestes di Museum Sejarah Alam di Utah di Salt Lake City. Spesimen ini memiliki panjang 8 meter dan tinggi 2,4 meter.
Para ilmuwan di Utah mengatakan mereka telah menemukan “kakek paman” dari Tyronnosaurus rex, pemangsa masif dengan tengkorak tebal dan gigi besar yang disebut “raja penanduk.”
Tulang-tulang dinosaurus sepanjang 7,3 meter itu, sedikit lebih kecil dibandingkan T. rex dan lebih tua sekitar 10 juta tahun, ditampilkan oleh Museum Sejarah Alam Utah di Salt Lake City, Rabu (6/11), dan pengumuman penemuan spesies tersebut diumumkan di jurnal ilmiah Plos One.
Para ilmuwan berharap penemuan ini akan membantu pemahaman yang lebih baik akan eskosistem tempat pemangsa tersebut berkeliaran.
Ditemukan oleh Dinas Pengelolaan Lahan Federal di bagian timur Utah pada 2009, para ilmuwan menamakan binatang itu Lythronax argestes, atau “raja penanduk”, karena giginya yang besar dan dominasinya sebagai pemangsa.
Meski dinosaurus dengan karakteristik seperti T. Rex – badan besar, tangan kecil, tengkorak tebal dan mata menghadap ke depan – hidup sekitar 70 juta tahun yang lampau, namun Lythronax memberikan indikasi-indikasi bahwa umurnya paling tidak 80 juta tahun. (Reuters/Laila Kearney).
Sumber : Voa Indonesia
Fosil Lythronax argestes di Museum Sejarah Alam di Utah di Salt Lake City. Spesimen ini memiliki panjang 8 meter dan tinggi 2,4 meter.
Para ilmuwan di Utah mengatakan mereka telah menemukan “kakek paman” dari Tyronnosaurus rex, pemangsa masif dengan tengkorak tebal dan gigi besar yang disebut “raja penanduk.”
Tulang-tulang dinosaurus sepanjang 7,3 meter itu, sedikit lebih kecil dibandingkan T. rex dan lebih tua sekitar 10 juta tahun, ditampilkan oleh Museum Sejarah Alam Utah di Salt Lake City, Rabu (6/11), dan pengumuman penemuan spesies tersebut diumumkan di jurnal ilmiah Plos One.
Para ilmuwan berharap penemuan ini akan membantu pemahaman yang lebih baik akan eskosistem tempat pemangsa tersebut berkeliaran.
Ditemukan oleh Dinas Pengelolaan Lahan Federal di bagian timur Utah pada 2009, para ilmuwan menamakan binatang itu Lythronax argestes, atau “raja penanduk”, karena giginya yang besar dan dominasinya sebagai pemangsa.
Meski dinosaurus dengan karakteristik seperti T. Rex – badan besar, tangan kecil, tengkorak tebal dan mata menghadap ke depan – hidup sekitar 70 juta tahun yang lampau, namun Lythronax memberikan indikasi-indikasi bahwa umurnya paling tidak 80 juta tahun. (Reuters/Laila Kearney).
Sumber : Voa Indonesia
Ilmuwan: Kehidupan di Bumi Berakhir dalam 1 Sampai 3 Miliar Tahun
Para peneliti Inggris mengamati planet-planet di luar sistem tata surya untuk dapat memperkirakan berapa lama Bumi dapat dihuni.
Situasi di matahari, yang jika menua akan mengembang dan membuat Bumi terlalu panas untuk kehidupan. (Foto: NASA/Solar Dynamics Observatory)
Manusia memiliki 1,75 miliar tahun -- atau barangkali lebih lama lagi -- untuk mencari tempat tinggal baru, menurut sebuah studi baru mengenai berapa lama lagi Bumi masih layak dihuni.
Para peneliti di University of East Anglia (UEA) di Inggris mengamati eksoplanet, atau planet-planet di luar sistem tata surya kita, untuk dapat memperkirakan berapa lama Bumi akan berada dalam zona layak huni dari matahari. Zona ini merupakan jarak dari bintang sebuah planet dengan suhu yang kondusif untuk memiliki air yang cair di permukaan, sehingga dapat menyokong kehidupan.
"Kami menggunakan model-model evolusi bintang untuk memperkirakan akhir dari kondisi layak huni di sebuah planet dengan menentukan kapan ia tidak lagi ada di zona yang dapat dihuni," ujar Andrew Rushby, dari fakultas sains lingkungan di UEA.
"Kami memperkirakan bahwa Bumi tidak lagi layak huni antara 1,75 dan 3,25 miliar tahun dari sekarang. Lewat dari itu, Bumi akan ada di 'zona panas' matahari, dengan suhu yang sangat tinggi sehingga laut akan menguap. Kita akan melihat bencana dan peristiwa mematikan untuk semua kehidupan."
Penemuan ini juga membuka mata terhadap potensi adanya makhluk pintar di antariksa. Hampir 1.000 planet di luar tata surya kita telah diidentifikasi sejauh ini oleh para astronom.
"Lamanya periode layak huni di sebuah planet sangat penting karena hal itu dapat menjelaskan potensi evolusi kehidupan yang kompleks, yang kemungkinan memerlukan periode kondisi layak huni yang lebih panjang," ujar Rushby.
Ia menambahkan bahwa meski ada serangga 400 juta tahun yang lalu, manusia modern baru berevolusi dalam 200.000 tahun terakhir.
"Tentu saja, banyak evolusi yang terjadi karena keberuntungan, jadi ini tidak konkret, namun kita tahu bahwa spesies cerdas dan kompleks seperti manusia tidak dapat muncul hanya setelah beberapa juta tahun, karena perlu 75 persen dari seluruh kehidupan layak huni dari planet ini untuk berevolusi. Kami kira ini barangkali sama di mana saja," ujarnya.
Rushby dan para koleganya mengamati satu eksoplanet, Kepler 22b, dan memperkirakan periode layak huninya 4,3 miliar sampai 6,1 miliar tahun. Planet satunya lagi, Gliese 581d, dapat memiliki periode layak huni 42,4 miliar sampai 54,7 miliar tahun.
Meski planet seperti Bumi belum ditemukan, para peneliti mengatakan kemungkinan ada satu dengan jarak terdekat 10 tahun cahaya, yang cukup dekat dalam standar astronomi. Meski demikian, untuk sampai ke planet itu perlu ratusan ribu tahun dengan teknologi yang ada sekarang ini.
Solusinya barangkali lebih dekat dari Bumi.
"Jika kita perlu pindah ke planet lain, Mars barangkali merupakan pilihan terbaik. Jaraknya sangat dekat dan ia akan tetap dalam zona layak huni sampai akhir kehidupan matahari, yaitu enam miliar tahun dari sekarang," ujar Rushby.
Makalah ini muncul di jurnal Astrobiology.
Wisata Flores Dan Cerita Legenda Pulau Komodo -
Cerita legenda masyarakat Pulau Komodo yang sampai hari ini terdengar di kalangan para wisatawan yang berkunjung ke Pulau Komodo. Dan hampir rata-rata para wisatawan yang hadir di lokasi Pulau Komodo dalam melakukan perjalanan wisata di kawaan Flores Nusa Tenggara Timur, Inodneisa, mendapatkan cerita legenda ini dari pemandu wisata lokal daerah tersebut, yang berasal dari masayrakat setempat yang berprofesi sebagai pemandu wisata.
Kisah cerita legenda Pulau Komodo bersalal dari sebuah cerita yang mengisahkan beberapa waktu yang hidup di sebuah desa seorang pemuda yang menikahi seorang wanita bernama Putri Naga yang datang dari negeri seberang. Tidak lama kemudian setelah menikah sang putri hamil dan melahirkan bayi kembar.
Kelahiran bayi dari sang Putri Naga dalam kisah legenda Pulau komodo ini, kedua anaknya yang kembar tersebut memiliki bentuk yang berbeda. Yang satu anak bayinya berupa manusia, dan yang satunya lagi berupa seekor kadal. Karena malu, maka anak bayi sang Putri Naga yang menyerupai kadal di buang dan di asingkan ke sebuah Pulau.
Lanjut kisah cerita legenda Pulau Komodo.......
Dalam keterangan cerita legenda Pualu Komodo ini, hari demi hari berjalan hingga kedua anak kembar tersebut beranjak besar, sampai suatu hari salah satu anak tersebut melakukan perburuan, dan akan memanah salah satu hewan komodo, dan seketika itu pula sang ibu mencegahnya, "jangan kau bunuh dia nak, dia adalah saudara kembarmu", ujar sang ibu. Seketika itu pula sang anak kaget dan menjawab, "mana mungkin aku memiliki saudara kembar seekor komodo bunda ?"
Dalam penjelasan sang Putri Naga dalam kisah cerita legenda Pulau Komodo kepada salah satu anaknya yang bertanya tentang kemustahilan bahwa dirinya memiliki saudara kembar seekor Komodo, mala sang ibu pun menjelaskannya kepada anaknya, "Beberapa tahun yang lalu bunda melahirkan bayi kembar, anak tersebut adalah dirimu dan komodo tersebut. Cobalah kamu lihat di tangan komodo tersebut, ada tanda lahir yang sama denganmu". Dan benar saja di lengan mereka berdua ada tanda lahir yang sama. Dan ada akhirnya si anak pun mengurungkan niatnya untuk membunuh si komodo tersebut yang menjadi saudara kembarannya.
Dari kisah cerita legenda Pulau Komodo yang berasal dari tanah Flores NTT inilah, yang membuat salah satu daya tarik para wisatawan untuk mengunjungi Pulau Komodo tersebut. Walau pun kesimpulan dari cerita legenda tenatng Pulau Komodo ini hanya berupa mitos belaka. Dan memang di area Pulau Komodo kita juga akan dapat menikmati sajian pemandangan tepi pantai yang indah yang terkenal dengan nama Pantai Pink (merah jambu). Dimana pasir pantainya tersebut berwarna merah muda, dan airnya sangat jernih. Cobalah lihat di photo di bawah ini yang merupakan foto yang menghadp ke Pantai Pink di Pulau Kodomo. Indah bukan ?..........
Bagi teman-teman yang akan berkunjung ke Pulau Komodo dan melakukan perjalanan wisata Flores, anda dapat masuk dari daerah Labuan Bajo di mana lokasi tersebut terdapat bandar udara yang siap menampung kedatangan anda melalui udara. Andapun dapat dengan mudah mendapatkan informasi harga Tiket pesawat termurah. Dan untuk penginapan anda bisa melihat informasi hotel dan penginapan di lokasi Labuan Bajo.
Semoga cerita kisah legenda Pulau Komodo yang terkenal dan menjadi salah satu destinasi wisata yang merupakan cagar budaya dan alam yang di lindungi oleh badan dunia PBB ini, dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita untuk berkunjung di kawasan Wisata Flores Nusata Tenggara Timur Indonesia.
Salam wisata,
( http://ejawantahtour.blogspot.com/2013/11/wisata-flores-dan-cerita-legenda-pulau.html )
Sumber :
Dari kisah cerita masyarakat Pulau Komodo.
Foto milik Kang Haris Maulana.
Hawadax Island Recovery Exceeding Expectations
HAWADAX ISLAND, ALASKA | October 23, 2013
“When I first landed on what was Rat Island in 2007, it was an eerily silent place. A typical Aleutian island is teeming with wildlife, swirling with noisy, pungent birds. Not this place. It was crisscrossed with rat trails, littered with rat scat, scavenged bird bones, it even smelled…wrong,” reports Stacey Buckelew, an Island Conservation biologist. Buckelew first visited the island to help document centuries of damage to native birds and plant species from introduced invasive rats.
Flash forward to today—five years after the successful removal of invasive Norway rats by the U.S. Fish and Wildlife Service, The Nature Conservancy and Island Conservation. Much has changed.
“The island is hardly recognizable among the cacophony of birds calling everywhere; it’s alive with bird fledglings – teals, eiders, wrens, sparrows, eagles, peregrine falcons, gulls, sandpipers. The island is transforming,”says Buckelew, who has just returned from the now renamed Hawadax Island where she is helping document early stages of an extraordinary recovery.
For the first time ever, breeding tufted puffins have been documented on the island in the Alaska Maritime National Wildlife Refuge. Species thought to have been extirpated because of the rats, such as Leach’s storm-petrels and fork-tailed storm-petrels, have been recorded on-island.
Ground-nesting and shorebird numbers are increasing as well. A 2008 survey documented nine glaucous-winged gull nests. This summer, an identical survey discovered 28 nests, a three-fold increase. Black oystercatchers and rock sandpiper nests have also increased significantly.
Song sparrows thought to be near extirpated by rats and snow buntings also decimated by rats are rebounding as well as. “During monitoring surveys in 2007 and 2008, we didn’t record a single song sparrow. This summer, hardly 3 minutes would pass without hearing a sparrow,” said Buckelew.
“The return of bird life to Hawadax Island is an inspiring example of what we can accomplish when we work together to fix a longstanding problem. It’s a win for people, and it’s a win for nature,” said Randy Hagenstein, Alaska state director for The Nature Conservancy.
Norway rats were spilled onto the island’s rocky shores in a 1780s shipwreck. Since then the rats had decimated native bird species by eating eggs, chicks, and adult birds and by ravaging habitat. In early October, 2008, after many years of intensive planning the project partners successfully removed the rats using rodenticide bait.
For several years leading up to implementation, project partners collected pre-removal baseline data on the island’s bird, plant and intertidal species. Since the removal of rats, partners have been back several times to monitor these same species. These early increases in native bird populations are expected to lead to more ecosystem recovery. Seabirds drive the vegetation communities on rat-free islands by delivering marine based nutrients to the soil. As seabirds increase on Hawadax, scientists expect plant communities to return to this natural state.
“What a joy it was to visit Hawadax Island this summer,” said Alaska Maritime National Wildlife Manager Steve Delehanty. “There were birds everywhere. There is no more valuable action we can take on a National Wildlife Refuge than making it once again a haven for wildlife.”
The project has also helped to restore an important Native presence. In 2012, the Aleutian Pribilof Islands Association, representing the Unangan (Aleut) community championed and officially restored the island’s original Unangan name. Hawadax translates to “those two over there” (an accurate description of the two knolls dominating the island’s topography). While the island is currently uninhabited, it was used by the Unangan people for millennia.
Other species inadvertently impacted by the operation are rebounding today. There were unfortunate losses of bald eagles that predated on rats that had consumed the bait. Fortunately, more nests and chicks were observed with each monitoring trip, and in 2013 the island is once again home to five active eagle nests, including four with chicks.
Globally, 40 percent of all species threatened with extinction today depend on islands, yet islands comprise a mere 5 percent of our world’s land area. Since 1500, 80 percent of all recorded extinctions worldwide have occurred on islands. Damaging introduced invasive species such as rats are implicated in nearly half of these. To date, there have been over 1,100 successful removals of invasive species including 500 rat removals worldwide. Once invasive species are removed from islands, native species and the island’s natural balance often recovers with little or no further intervention.
“Hawadax Island is on a trajectory for recovery and the ecological gains we are witnessing are tremendous. They are a sustained testament to a conservation methodology and partnership that works,” said Gregg Howald, North America Region Director for Island Conservation. “We have had similar successes working with the Service and the Conservancy elsewhere. We are committed to a long-term conservation partnership to apply these transformative conservation tools.”
Hawadax Island is part of the Alaska Maritime National Wildlife Refuge and the National Wilderness Preservation System. The island is located about 1,300 miles west of Anchorage in Alaska’s Aleutian Islands. The 6,861 acre island is uninhabited by humans. Steep coastal cliffs, a small central mountain range (with a maximum elevation of about 950 feet), and broad, rolling plateaus of maritime tundra define this treeless island. There are no native land mammals on Hawadax but there are marine mammals on off-shore rocks and islets. For more information, visit seabirdrestoration.org.
Sunday, 10 November 2013
Supertyphoon Haiyan: Why Monster Storm Is So Unusual
The massive typhoon striking the Philippines is both big and late in the season.
The Suomi NPP satellite captured an incredibly detailed infrared image of Super Typhoon Haiyan's eye as it orbited over the storm.
Photograph by NASA/NOAA
A fairly normal typhoon season in the western Pacific has spawned a real monster—supertyphoon Haiyan—which made landfall in the Philippines at around 5 a.m. local time.
The storm, described by some as "tropical cyclone perfection" and "off the charts," packed sustained winds of 195 miles (315 kilometers per hour), with gusts as strong as 235 miles (380 kilometers per hour). Experts predict the typhoon—also known as Yolanda in the Philippines—could end up being the strongest storm to ever make landfall since modern record-keeping began, according to The Washington Post.
"It's knocking our socks off," said Jim Kossin, an atmospheric scientist with the U.S. National Oceanic and Atmospheric Administration's Climatic Data Center. (Related: "What's a Typhoon, Anyway?")
But what happens to create such a megastorm?
There are several environmental factors that play into how strong a storm can get, Kossin explained. The storms thrive on warm water that goes deep into the ocean and consistent wind speeds in the atmosphere, he said.
"When all those things align in a certain way, then you're going to get something like [Haiyan]," Kossin added.
More Storms on the Horizon
Haiyan is a strange storm in both its strength and because it comes very late in the typhoon season, which officially ended November 1, said Colin Price, head of the geophysical, atmospheric, and planetary sciences department at Tel Aviv University in Israel.
Although the overall number of hurricanes, cyclones, and typhoons—all the same weather phenomenon—hasn't increased over the past decades, the proportion of more intense storms has, Price explained. (See "Typhoon, Hurricane, Cyclone: What's the Difference?")
"All typhoons feed off the warm ocean waters," he said. The moisture-laden air above these regions is the fuel that fires the engines in these storms.
"We've seen in the past decades the oceans are warming up, likely due to climate change," said Price. "So warmer oceans will give us more energy for these storms, likely resulting in more intense storms."
Haiyan dipped down near the Equator, where it likely picked up some more steam, before heading to the Philippines, he said.
It's similar to what happened when Hurricane Katrina picked up steam as it passed over the warm pool of water in the Gulf of Mexico in August 2005.
Jane J. Lee
Published November 8, 2013
Supercar Termahal Dunia Siap Dipesan!
Otosia.com - Supercar pertama buatan Arab, Lykan Hypersport, sudah siap diproduksi. Penampilan perdananya di mata dunia dalam pagelaran Qatar Motor Show bulan Januari lalu, mengawali debutnya sebagai mobil super termahal dan termewah di kelasnya.
Mobil besutan W Motors ini hanya diproduksi sebanyak 7 unit yang masing-masing dibanderol dengan harga yang fantastis, yakni US$ 3.4 juta yang setara dengan Rp 38.7 miliaran. Tentu saja harga tersebut sebanding dengan keistimewaan mobil berdesain sporty dengan lampu LED bertabur berlian dan kap mesin berlapis emas ini.
Masalah penampilan si Lykan Hypersport ini memang tak bisa dipungkiri lagi sebagai supercar dengan desain tercantik yang pernah dibuat. Tak hanya itu saja, dalam sektor dapur pacu pun, ia tak kalah dengan supercar produksi negara lain seperti Italia atau Inggris.
Performanya disokong oleh twin-turbo flat six engine berkapasitas 3.7 liter yang mampu memberikan tenaga hingga 770 hp dan torsi 999Nm. Dengan begitu, Lykan Hypersport ini mampu berlari dari 0-100 km/h hanya dalam waktu 2.8 detik dengan top speed yang mencapai 395 km/h.
Meskipun harganya yang selangit, supercar pertama bikinan Arab ini peminatnya ternyata tak sedikit. Termasuk miliarder-miliarder asal AS, China dan Rusia.
Tertarik?
Sumber : ( http://www.otosia.com/berita/supercar-termahal-dunia-siap-dipesan.html )
Subscribe to:
Posts (Atom)


























